Senin, 23 September 2013

Kemerdekaan Yang Belum Tercicipi


Bergerak perlahan di tengah gedung-gedung pencakar langit, di antara kendaraan-kendaraan lambang prestise manusia-manusia kota. Dengan gerobak butut yang selalu setia menemaniku. Gerobak ini adalah satu-satunya harta milikku. Gerobak ini adalah apartemenku di kala malam sampai menjelang adzan subuh, gerobak ini adalah kendaraan dinasku sebagai pemulung. Makananku adalah sampah yang mereka buang. Kantorku adalah tong sampah demi tong sampah. Ya, hanya sampah mereka yang aku butuhkan untuk makan. Itupun belakangan ini banyak tempat-tempat yang melarang sampahnya untuk di ambil oleh para pemulung sepertiku. Dengan teganya mereka memasang plang peraturan di depan pintu gerbang gedung mewah mereka dengan tulisan “PEMULUNG DILARANG MASUK’’. Seolah mereka benar-benar terganggu dengan kehadiranku yang hanya ingin meminta “SAMPAH” mereka. Seolah mereka benar – benar ingin mensucikan diri dari kehadiran kami yang kotor, bau, dan sangat mengganggu penglihatan mereka mereka. Bahkan untuk berbicara sekedar melarang kami pun mereka tidak mau. Sehingga dengan sadisnya mereka menusuk batinku dengan plang tulisan tersebut. Dosa apa kami para pemulung kepada mereka? Aku tidak pernah meminta uang mereka. Aku hanya meminta sampah mereka, itu saja. Malah bahkan, aku pernah diusir dari tong sampah mereka layaknya anjing liar yang kelaparan dan penyakitan. Memang akupun tidak mengelak kalau ada beberapa dari kami yang nekat mencuri, itupun pasti mereka lakukan dengan terpaksa karena kebutuhan ekonomi yang kian menghimpit.  Seperti bait sebuah lagu “antrian pencuri yang timbul sebab nasi-nya dicuri”.

Belum lagi kalau mendengarkan keluh-kesah dari teman-teman sesama pemulung yang sangat khawatir tentang masa depan anak-anak mereka, kelangsungan hidup anak istri mereka. Jangankan untuk biaya pendidikan anaknya, “buat makan saja sudah senin-kemis” kata seorang temanku. Ada lagi satu kawanku yang lain, dia dulunya adalah seorang pedagang kaki lima. Beberapa tahun lalu PemKot DKIJ mengeluarkan keputusan larangan berjualan dipinggir jalan karena merusak lingkungan. Suatu hari kios tidak permanen miliknya digusur tanpa pemberitahuan dan bahkan tanpa dicarikan lapak pengganti. Protes pun tak pernah dihiraukan, yang akhirnya membuatnya menyerah pada keadaan, keadaan yang menginjak-injak diri dan keluarganya, keluarga kami.

Kawanku yang lainnya, dulunya pedagang di sebuah pasar tradisional Ibu Kota. Walau dengan lapak yang seadanya, ia mempu untuk menyekolahkan anaknya setidaknya sampai SMA. Namun suatu ketika seluruh pasar tersebut habis ter(di)bakar. Setelah sebelumnya mereka (para pedagang) menolak keras rencana penggusuran untuk dibangun supermarket. Sepertinya uang dapat melegalkan cara apapun untuk memenuhi pesanan para penguasa yang lalim itu. Benar saja, sebulan setelah kebakaran tersebut, dimulailah pembangunan yang telah mereka rencanakan tersebut. Yang sebelumnya mereka ingin membeli lapak para pedagang dengan harga sangat murah, dan tak berhasil. Sekarang mereka dapat memilikinya hanya dengan “santunan” yang mereka rasa cukup besar untuk sebuah santunan, dan bahkan dapat apresiasi sebagai dermawan. Hebatnya di negaraku, seorang penjahat dapat dianggap sebagai pahlawan. Dengan jasa mereka yang dengan senang hati mewakilkan apa-apa yang menjadi hak kami.

Tapi ketika kuceritakan kisah hidupku, kawan-kawanku itu lebih bisa berbesar hati karena penderitaan mereka yang berat itu ternyata tidak lebih berat dari penderitaanku. Ya setidaknya mereka sudah pernah menjalani hidup yang lebih baik sebelumnya. Sejak kecil aku hidup berdua dengan ibuku yang sudah renta. Ayahku sudah lama meninggal karena mempertahankan tanah kami yang akan digusur pemerintah dengan alasan pembangunan. Ayahku tewas diinjak kaki pembangunan yang dikendalikan oleh manusia yang lebih pantas disebut iblis. Semenjak kematian ayah, aku, bocah berusia 5 tahun yang harus berusaha menghidupi diriku dan ibu. Karena ibu sudah sakit keras, itupun tak pernah tersentuh pengobatan. Aku hanya mampu mencari makan untuk kami berdua. Disaat anak-anak lain seusiaku berlari riang saat berangkat ke sekolah, aku sibuk mencari sampah plastik yang bisa dijual. Dua tahun kemudian, saat usiaku 7 tahun ibu meninggal dunia, meninggalkanku sendiri di dunia ini. Tak puas hanya menggusur tanahku, para iblis itupun menggusur rumahku, bahkan desa kami. Tak ada uang penggantian sepeserpun kuterima, mungkin karena aku hanya anak kecil yang tak tau urusan. Dan sejak saat itulah aku berlalu-lalang hidup sendiri, beralaskan tanah dan beratapkan langit. Ya, memang sepertinya penderitaan lebih memilih akrab dengan kami orang miskin. Dan sampai sekarang usiaku beranjak 66 tahun, sepertinya keadaan tidak lebih baik. Malah justru pembangunan jaman sekarang jauh lebih kejam, walau tidak secara fisik lagi kami diinjak, tapi secara mental/batin yang pastinya lebih terasa sakitnya. Seperti kata pepatah tua “kemiskinan bagaikan hukuman atas dosa yang tidak kami perbuat”.

Tetapi saat ini hatiku sudah bisa menerima semua jalan hidupku. Yang tak pernah bisa kuterima, adalah ketika para generasi penerus bangsa ini bersikap apatis terhadap Ibu Pertiwi ini. Setiap hari para pemuda generasi penerus bangsa ini dicekoki dengan pembodohan-pembodohan yang dilegalisir oleh negara. Alih-alih demi pembangunan, kemajuan jaman, kemajuan teknologi-informasi, dan –bodohnya lagi- gaya hidup, para pemuda kami digiring untuk kian melupakan sejarah. Melalui kurikulum dan materi yang menganggap enteng sejarah bangsa ini, dan dengan dihapusnya jasa-jasa dan bahkan nama para pahlawan dari buku pelajaran sejarah. Karena “Bangsa yang hancur adalah Bangsa yang melupakan sejarahnya”. Jadi jika menurut teori tersebut diatas, bengsa ini sedang dalam proses kehancuran. Jangan heran jika banyak pelajar tingkat atas atau bahkan mahasiswa jaman sekarang yang lupa atau bahkan belum hafal pancasila. Apalagi untuk menanamkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Apakah manusia-manusia seperti ini yang dapat kita harapkan untuk meneruskan mengisi kemerdekaan yang belum pernah sampai 100% ini? Atau bahkan menurutku 50% pun belum.

Mereka para wakil kami di negri demokrasi ini, sepertinya lebih nyaman untuk menggunakan semboyan “dari rakyat, oleh kami, dan untuk kami”. Para wakil yang justru menganggap dirinya pemimpin dan bukannya wakil. Karena menurut pemahaman pemulung sepertiku, “wakil” adalah tangan kedua dan bukan tangan pertama. Sedangkan “pemimpin” adalah tangan pertama. Entah karena bodohnya aku sehingga tidak dapat membedakan kedua teori tersebut. Tapi yang pasti kami tahu, dalam hal kemakmuran merekalah yang menjadi orang pertama dan tanpa menyisakan sedikitpun untuk kami (yang mereka anggap orang kedua). Tapi dalam kesulitan, kesengsaraan, dan pengorbanan kamilah yang mereka posisikan sebagai orang pertama yang harus menikmati segala adanya dengan tanpa daya, tanpa mereka ingin terlibat. Mereka para wakil rakyat negri ini telah berhasil membangun sebuah istana kristal. Sehingga dari dalam sana mereka tuli dari keluh kesah kami yang menderita, mereka buta akan luluh lantahnya negri diluar istana mereka. Apalagi untuk mencium bau busuknya sampah yang melekat ditubuhku, hati mereka telah ingkar.

Melalui peraturan atau kebijakan-kebijakan dari mereka para penguasa negri ini, peraturan yang ditujukan semata untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, kebutuhan manusia-manusia rakus itu, yang lagi-lagi mengatasnamakan “pembangunan”. Entah karena terlalu bodoh, terlalu pandai, atau mereka ditunggangi kepentingan sehingga mereka tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya kami –rakyat yang “sampai detik ini” belum terwakili- sudah muak dan tak bisa lagi mereka bodohi. Tapi indahnya lagi, aku yang hanya sebagai pemulung pun menyadari akan ke-takberdayaan kami untuk sekedar mendapatkan hak kami sebagai warga negara, apalagi untuk dapat bermimpi membenahi tanah tercinta ini. Dengan hampir tak sadarkan diri, bangsa ini terus memaksakan diri untuk bersaing dengan bangsa lain. Dan seperti yang kita tahu, hal-hal yang dipaksakan tidak akan menghasilkan yang baik.

Tetapi aku percaya bahwa harapan itu selalu ada. Harapan akan kehadiran seorang, sekelompok, atau bahkan seluruh pemuda yang dengan ketulusan hati akan mereparasi negri ini. Bung Karno pernah berkata : “seribu orang tua hanya dapat bermimpi, seorang pemuda dapat mengguncang dunia”. Kita sedang tak butuh seorang pemuda untuk mengguncang dunia, kita hanya butuh seorang pemuda untuk mengguncang atau bahkan merobohkan istana kemunafikan bangsa ini, merobohkan benteng kelaliman para penguasa, mengembalikan harga diri dan moral bengsa ini yang sudah terkubur jauh didalam tanah.

Semua itu hanya akan kita dapati pada para pemuda yang dalam dirinya terdapat kesadaran, kepedulian, dan kemauan yang kuat. Jika harapan itu terasa muluk sekali pada masa-masa ini. Sebenarnya kita masih bisa mewujudkannya dengan cara mendidik dan mempersiapkan para “calon pemuda” yang akan datang agar memiliki kesadaran dan kepedulian, terlebih kemauan yang tinggi untuk tercapainya kemerdekaan 100%.

Anda, para pemuda tentu harus menjawabnya…!!!

 28 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar