Banyak orang tahu bahwa Alqur'an adalah petunjuk. Petunjuk yang diperuntukkan bagi umat Rasulullah Muhammad saw. Tapi pada jaman sekarang, nyatanya Qur'an lebih banyak digunakan sebagai 'mantra'. Maksudnya adalah ia tidak lagi dipelajari sebagaimana seharusnya sebuah petunjuk. Tetapi hanya 'dihafal' dan dibaca, lalu mengharapkan keajaiban akan mendatanginya sesuai dengan redaksi ayat yang ia baca.
Kalaupun ada orang yang mempelajari Qur'an, kebanyakan -kalau tidak mau dibilang semua- tidak mempelajarinya secara tertib dan disiplin. Maksud saya disini adalah masih banyak sekali diantara kita yang mempelajari Qur'an semaunya sendiri, mentafsiri redaksi dari ayat-ayat hanya menggunakan 'terjemahan'. Padahal untuk dapat menafsiri ayat-ayat tersebut dibutuhkan syarat-syarat yang tidak mudah. Jadi ada disiplin ilmu tersendiri, sebagaimana ahli komputer, ahli mesin, ahli perbankan, dll. Dalam urusan-urusan agama pun ada ahli pada masing-masing bidangnya, seperti ahli tafsir Qur'an, ahli tafsir Hadist, ahli fiqih, ahli dakwah, dll. Dan semua ahli-ahli tersebut membutuhkan syarat masing-masing.
Seperti kita tahu, dalam kehidupan dunia saja kita tak bisa mengerjakan semuanya sendiri.Saat komputer kita rusak kita bawa kepada 'ahli' komputer, saat mobil kita rusak kita bawa kepada 'ahli' mesin otomotif, saat para pejabat mau mengambil keputusan terkait ekonomi mereka meminta pendapat 'ahli' ekonomi. Pertanyaan saya, kenapa dalam hal yang jauh lebih penting dari segala urusan dunia ini kita tidak menyerahkan kepada ahlinya?
Dengan segala niat baik kita pelajari sendiri, kita tafsiri sendiri redaksi Qur'an hanya dengan bermodalkan terjemahannya. Sementara diri kita belum memenuhi syarat akan bidang tafsir. Saya ingin sedikit menjelaskan beda antara tafsir dengan terjemahan. Terjemahan itu adalah pengalihan bahasa, dari bahasa yang satu diubah ke bahasa yang lain, hanya redaksinya saja. Sementara tafsir adalah menjelaskan atau menegaskan maksud dari sebuah redaksi agar tidak ada keraguan sehingga kita tidak perlu menebak-nebak lagi. Untuk dapat menerjemahkan, seseorang hanya membutuhkan pengetahuan berbahasa, baik bahasa asal maupun bahasa tujuan. Sementara untuk dapat menafsiri, tidak cukup hanya pengetahuan bahasa saja, tapi juga pengetahuan sejarah, pengetahuan sastra, dan pengetahuan budaya dari kedua bahasa tersebut -bahasa asal dan bahasa tujuan. Terlebih dalam menafsiri Qur'an, tidak hanya syarat-syarat akademis saja yang dibutuhkan, tapi juga syarat-syarat spiritual.
Karena kita sudah tidak bisa lagi belajar kepada Sang Ahli Qur'an secara langsung, yaitu Rasulullah Muhammad saw. Jadi alangkah baiknya jika kita merujuk kepada ahli tafsir Qur'an jika ingin mempelajarinya atau jika ingin memfungsikan Qur'an sebagai petunjuk hidup.
Demikian yang dapat saya sharingkan, semua masih terbatas pada kapasitas saya. Saya tidak mewakili pihak manapun kecuali diri saya sendiri.
JANGAN MENAFSIRI SENDIRI
Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar