Bergerak
perlahan di tengah gedung-gedung pencakar langit, di antara kendaraan-kendaraan
lambang prestise manusia-manusia kota.
Dengan gerobak butut yang selalu setia menemaniku. Gerobak ini adalah
satu-satunya harta milikku. Gerobak ini adalah apartemenku di kala malam sampai
menjelang adzan subuh, gerobak ini adalah kendaraan dinasku sebagai pemulung.
Makananku adalah sampah yang mereka buang. Kantorku adalah tong sampah demi
tong sampah. Ya, hanya sampah mereka yang aku butuhkan untuk makan. Itupun
belakangan ini banyak tempat-tempat yang melarang sampahnya untuk di ambil oleh
para pemulung sepertiku. Dengan teganya mereka memasang plang peraturan di
depan pintu gerbang gedung mewah mereka dengan tulisan “PEMULUNG DILARANG
MASUK’’. Seolah mereka benar-benar terganggu dengan kehadiranku yang hanya ingin
meminta “SAMPAH” mereka. Seolah mereka benar – benar ingin mensucikan diri dari
kehadiran kami yang kotor, bau, dan sangat mengganggu penglihatan mereka
mereka. Bahkan untuk berbicara sekedar melarang kami pun mereka tidak mau.
Sehingga dengan sadisnya mereka menusuk batinku dengan plang tulisan tersebut.
Dosa apa kami para pemulung kepada mereka? Aku tidak pernah meminta uang
mereka. Aku hanya meminta sampah mereka, itu saja. Malah bahkan, aku pernah
diusir dari tong sampah mereka layaknya anjing liar yang kelaparan dan
penyakitan. Memang akupun tidak mengelak kalau ada beberapa dari kami yang
nekat mencuri, itupun pasti mereka lakukan dengan terpaksa karena kebutuhan ekonomi
yang kian menghimpit. Seperti bait
sebuah lagu “antrian pencuri yang timbul sebab nasi-nya dicuri”.
Belum
lagi kalau mendengarkan keluh-kesah dari teman-teman sesama pemulung yang
sangat khawatir tentang masa depan anak-anak mereka, kelangsungan hidup anak
istri mereka. Jangankan untuk biaya pendidikan anaknya, “buat makan saja sudah
senin-kemis” kata seorang temanku. Ada lagi satu kawanku yang lain, dia dulunya
adalah seorang pedagang kaki lima. Beberapa tahun lalu PemKot DKIJ mengeluarkan
keputusan larangan berjualan dipinggir jalan karena merusak lingkungan. Suatu
hari kios tidak permanen miliknya digusur tanpa pemberitahuan dan bahkan tanpa
dicarikan lapak pengganti. Protes pun tak pernah dihiraukan, yang akhirnya
membuatnya menyerah pada keadaan, keadaan yang menginjak-injak diri dan
keluarganya, keluarga kami.
Kawanku
yang lainnya, dulunya pedagang di sebuah pasar tradisional Ibu Kota. Walau
dengan lapak yang seadanya, ia mempu untuk menyekolahkan anaknya setidaknya
sampai SMA. Namun suatu ketika seluruh pasar tersebut habis ter(di)bakar.
Setelah sebelumnya mereka (para pedagang) menolak keras rencana penggusuran
untuk dibangun supermarket. Sepertinya uang dapat melegalkan cara apapun untuk
memenuhi pesanan para penguasa yang lalim itu. Benar saja, sebulan setelah
kebakaran tersebut, dimulailah pembangunan yang telah mereka rencanakan
tersebut. Yang sebelumnya mereka ingin membeli lapak para pedagang dengan harga
sangat murah, dan tak berhasil. Sekarang mereka dapat memilikinya hanya dengan
“santunan” yang mereka rasa cukup besar untuk sebuah santunan, dan bahkan dapat
apresiasi sebagai dermawan. Hebatnya di negaraku, seorang penjahat dapat
dianggap sebagai pahlawan. Dengan jasa mereka yang dengan senang hati mewakilkan
apa-apa yang menjadi hak kami.
Tapi
ketika kuceritakan kisah hidupku, kawan-kawanku itu lebih bisa berbesar hati
karena penderitaan mereka yang berat itu ternyata tidak lebih berat dari
penderitaanku. Ya setidaknya mereka sudah pernah menjalani hidup yang lebih
baik sebelumnya. Sejak kecil aku hidup berdua dengan ibuku yang sudah renta.
Ayahku sudah lama meninggal karena mempertahankan tanah kami yang akan digusur
pemerintah dengan alasan pembangunan. Ayahku tewas diinjak kaki pembangunan yang
dikendalikan oleh manusia yang lebih pantas disebut iblis. Semenjak kematian
ayah, aku, bocah berusia 5 tahun yang harus berusaha menghidupi diriku dan ibu.
Karena ibu sudah sakit keras, itupun tak pernah tersentuh pengobatan. Aku hanya
mampu mencari makan untuk kami berdua. Disaat anak-anak lain seusiaku berlari
riang saat berangkat ke sekolah, aku sibuk mencari sampah plastik yang bisa
dijual. Dua tahun kemudian, saat usiaku 7 tahun ibu meninggal dunia,
meninggalkanku sendiri di dunia ini. Tak puas hanya menggusur tanahku, para
iblis itupun menggusur rumahku, bahkan desa kami. Tak ada uang penggantian
sepeserpun kuterima, mungkin karena aku hanya anak kecil yang tak tau urusan.
Dan sejak saat itulah aku berlalu-lalang hidup sendiri, beralaskan tanah dan
beratapkan langit. Ya, memang sepertinya penderitaan lebih memilih akrab dengan
kami orang miskin. Dan sampai sekarang usiaku beranjak 66 tahun, sepertinya
keadaan tidak lebih baik. Malah justru pembangunan jaman sekarang jauh lebih
kejam, walau tidak secara fisik lagi kami diinjak, tapi secara mental/batin
yang pastinya lebih terasa sakitnya. Seperti kata pepatah tua “kemiskinan
bagaikan hukuman atas dosa yang tidak kami perbuat”.
Tetapi
saat ini hatiku sudah bisa menerima semua jalan hidupku. Yang tak pernah bisa
kuterima, adalah ketika para generasi penerus bangsa ini bersikap apatis
terhadap Ibu Pertiwi ini. Setiap hari para pemuda generasi penerus bangsa ini
dicekoki dengan pembodohan-pembodohan yang dilegalisir oleh negara. Alih-alih
demi pembangunan, kemajuan jaman, kemajuan teknologi-informasi, dan –bodohnya
lagi- gaya hidup, para pemuda kami digiring untuk kian melupakan sejarah.
Melalui kurikulum dan materi yang menganggap enteng sejarah bangsa ini, dan
dengan dihapusnya jasa-jasa dan bahkan nama para pahlawan dari buku pelajaran
sejarah. Karena “Bangsa yang hancur adalah Bangsa yang melupakan sejarahnya”. Jadi
jika menurut teori tersebut diatas, bengsa ini sedang dalam proses kehancuran.
Jangan heran jika banyak pelajar tingkat atas atau bahkan mahasiswa jaman
sekarang yang lupa atau bahkan belum hafal pancasila. Apalagi untuk menanamkan
nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Apakah manusia-manusia seperti ini yang
dapat kita harapkan untuk meneruskan mengisi kemerdekaan yang belum pernah
sampai 100% ini? Atau bahkan menurutku 50% pun belum.
Mereka
para wakil kami di negri demokrasi ini, sepertinya lebih nyaman untuk
menggunakan semboyan “dari rakyat, oleh
kami, dan untuk kami”. Para wakil yang justru menganggap dirinya pemimpin
dan bukannya wakil. Karena menurut pemahaman pemulung sepertiku, “wakil” adalah
tangan kedua dan bukan tangan pertama. Sedangkan “pemimpin” adalah tangan
pertama. Entah karena bodohnya aku sehingga tidak dapat membedakan kedua teori
tersebut. Tapi yang pasti kami tahu, dalam hal kemakmuran merekalah yang
menjadi orang pertama dan tanpa menyisakan sedikitpun untuk kami (yang mereka
anggap orang kedua). Tapi dalam kesulitan, kesengsaraan, dan pengorbanan
kamilah yang mereka posisikan sebagai orang pertama yang harus menikmati segala
adanya dengan tanpa daya, tanpa mereka ingin terlibat. Mereka para wakil rakyat
negri ini telah berhasil membangun sebuah istana kristal. Sehingga dari dalam
sana mereka tuli dari keluh kesah kami yang menderita, mereka buta akan luluh
lantahnya negri diluar istana mereka. Apalagi untuk mencium bau busuknya sampah
yang melekat ditubuhku, hati mereka telah ingkar.
Melalui
peraturan atau kebijakan-kebijakan dari mereka para penguasa negri ini,
peraturan yang ditujukan semata untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri,
kebutuhan manusia-manusia rakus itu, yang lagi-lagi mengatasnamakan
“pembangunan”. Entah karena terlalu bodoh, terlalu pandai, atau mereka
ditunggangi kepentingan sehingga mereka tidak pernah menyadari bahwa
sesungguhnya kami –rakyat yang “sampai detik ini” belum terwakili- sudah muak
dan tak bisa lagi mereka bodohi. Tapi indahnya lagi, aku yang hanya sebagai
pemulung pun menyadari akan ke-takberdayaan kami untuk sekedar mendapatkan hak
kami sebagai warga negara, apalagi untuk dapat bermimpi membenahi tanah
tercinta ini. Dengan hampir tak sadarkan diri, bangsa ini terus memaksakan diri
untuk bersaing dengan bangsa lain. Dan seperti yang kita tahu, hal-hal yang
dipaksakan tidak akan menghasilkan yang baik.
Tetapi
aku percaya bahwa harapan itu selalu ada. Harapan akan kehadiran seorang,
sekelompok, atau bahkan seluruh pemuda yang dengan ketulusan hati akan
mereparasi negri ini. Bung Karno pernah berkata : “seribu orang tua hanya dapat
bermimpi, seorang pemuda dapat mengguncang dunia”. Kita sedang tak butuh
seorang pemuda untuk mengguncang dunia, kita hanya butuh seorang pemuda untuk
mengguncang atau bahkan merobohkan istana kemunafikan bangsa ini, merobohkan
benteng kelaliman para penguasa, mengembalikan harga diri dan moral bengsa ini
yang sudah terkubur jauh didalam tanah.
Semua
itu hanya akan kita dapati pada para pemuda yang dalam dirinya terdapat
kesadaran, kepedulian, dan kemauan yang kuat. Jika harapan itu terasa muluk
sekali pada masa-masa ini. Sebenarnya kita masih bisa mewujudkannya dengan cara
mendidik dan mempersiapkan para “calon pemuda” yang akan datang agar memiliki
kesadaran dan kepedulian, terlebih kemauan yang tinggi untuk tercapainya
kemerdekaan 100%.
Anda,
para pemuda tentu harus menjawabnya…!!!
28 September 2011