Jumat, 20 Juni 2014

oleh Wahyu Sulaiman Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

Senin, 02 Juni 2014

9 Rubaiyat Langit dan Hujan

kau sedikit sekali kusimpan dalam kenangan.
apakah cinta harus memiliki banyak ingatan?
bukankah sebongkah awan
sudah cukup mencucurkan hujan?

kita bersisian tak memberi sela untuk udara.
“aku rindu jadi sengaja mimpi kuciptakan.
kita di sana. tapi bila kau sendirian saja
lihatlah, rintik hujan masih bertahan.”

rindu hujan tak terlihat di mana dasarnya,
langit: “bila terlalu dalam nanti kau menangis,”
diam-diam hujan menghimpun desis gerimis
yang bergelayutan di ujung harum hio sua.

“tidakkah kau mencintaiku?” hujan
tak berharap langit mengiyakan.
hujan hanya ingin mencium pelupuknya
ketika dipandang begitu mesra.

aku ingin memujamu seperti hujan.
menurutmu, “jangan”
hujan adalah tangis langit.
tetap basah ketika kemarau yang sulit.

apakah yang paling penting bila hujan reda?
sorak kanak-kanak bermain bola dan sepeda.
tidak. pergilah ke pekarangan dan tengok saja
hatiku dibasahi cinta. warnanya seperti apa?

aku tak menyukai langit karena bulan begitu jauh.
aku mencintai bintang-bintang di mata yang teduh.
“bagaimana kita menyeimbangkannya? aku bukan langit,”
begitulah, bisikmu, “aku kabut di kaki bukit.”

tiba-tiba gelombang hujan mendesing.
kata dan suara memburu ledakan cahaya.
burung kecil berlomba dengan pesawat udara.
aneh…, mereka sama sekali tidak bising.

“aku tulis 9 rubaiyat untukmu.” hampir usai,
tetapi langit belum terang sehabis hujan.
jika begitu langitkah? hujankah? oh, bukan.
jangan sembilan! ini rubaiyat yang tak selesai.

Lan Fang