Selasa, 12 November 2013

Tamu Spesial

Tar…ter..tar…ter, suara petasan meledak beruntun seiring datangnya kedua mempelai di tempat resepsi. Tetapi kedua mempelai ini rupanya bukan manusia, karena mereka mengadakan resepsi pernikahannya di tengah gunungan sampah di TPA Bantar Gebang. Mereka pun harus membayar mahal untuk menyewa tempat itu. Karena tempat itu merupakan ladang tempat ribuan kepala keluarga mencari makan, jadi kedua mempelai itu harus menanggung makan ribuan kepala keluarga beserta anggotanya selama sehari.

Kerabat yang diundang pun hanya satu dua orang yang benar-benar dekat dengan mereka, karena mereka lebih mementingkan undangan spesial mereka, yaitu gelandangan dan anak-anak jalanan. Mereka bahagia sekali dapat makan bersama dengan anak-anak jalanan di tengah aroma gunungan sampah bersama seluruh undangan. Jangan kira makanan yang disediakan adalah makanan murahan, sebaliknya mereka menyediakan cathering hotel dalam jumlah sangat banyak. Mereka akan sedih sekali kalau sampai ada undangan spesial yang datang tapi tidak dapat makan.

Selesai makan bersama, acara dilanjutkan dengan hiburan berupa life music dari pengamen-pengamen yang datang, juga pembacaan puisi dari anak-anak jalanan hasil karya mereka sendiri. Juga ada cerita tentang sejarah perjuangan dari seorang veteran perang yang sekarang menjadi tukang becak.


Sampai sore hari, acara resepsi itu akhirnya selesai. Betapa bahagia kedua pengantin itu. Tak sepeserpun mereka terima dari tamu undangannya kecuali senyum bahagia nan tulus, karena hanya itu yang dibutuhkan kedua mempelai dari saudara-saudaranya itu. Dan hari itu adalah awal dari sesuatu yang besar, sesuatu yang baik, kehidupan bersama sebagai sepasang suami istri, yang perjalanan bahteranya di lepas oleh senyum bahagia dari ribuan tamu spesial mereka.