Tar…ter..tar…ter,
suara petasan meledak beruntun seiring datangnya kedua mempelai di tempat
resepsi. Tetapi kedua mempelai ini rupanya bukan manusia, karena mereka
mengadakan resepsi pernikahannya di tengah gunungan sampah di TPA Bantar
Gebang. Mereka pun harus membayar mahal untuk menyewa tempat itu. Karena tempat
itu merupakan ladang tempat ribuan kepala keluarga mencari makan, jadi kedua
mempelai itu harus menanggung makan ribuan kepala keluarga beserta anggotanya
selama sehari.
Kerabat yang
diundang pun hanya satu dua orang yang benar-benar dekat dengan mereka, karena
mereka lebih mementingkan undangan spesial mereka, yaitu gelandangan dan
anak-anak jalanan. Mereka bahagia sekali dapat makan bersama dengan anak-anak
jalanan di tengah aroma gunungan sampah bersama seluruh undangan. Jangan kira
makanan yang disediakan adalah makanan murahan, sebaliknya mereka menyediakan
cathering hotel dalam jumlah sangat banyak. Mereka akan sedih sekali kalau
sampai ada undangan spesial yang datang tapi tidak dapat makan.
Selesai makan
bersama, acara dilanjutkan dengan hiburan berupa life music dari pengamen-pengamen yang datang, juga pembacaan puisi
dari anak-anak jalanan hasil karya mereka sendiri. Juga ada cerita tentang
sejarah perjuangan dari seorang veteran perang yang sekarang menjadi tukang
becak.
Sampai sore
hari, acara resepsi itu akhirnya selesai. Betapa bahagia kedua pengantin itu.
Tak sepeserpun mereka terima dari tamu undangannya kecuali senyum bahagia nan
tulus, karena hanya itu yang dibutuhkan kedua mempelai dari saudara-saudaranya
itu. Dan hari itu adalah awal dari sesuatu yang besar, sesuatu yang baik,
kehidupan bersama sebagai sepasang suami istri, yang perjalanan bahteranya di
lepas oleh senyum bahagia dari ribuan tamu spesial mereka.