Jumat, 04 Oktober 2013

Koma

Menjelang dinihari pengarang itu mati. Kepalanya terkulai di atas meja, batuknya serasa masih menggema, sementara rokok yang belum habis dihisapnya masih menyala di atas asbak. Tubuhnya babak belur sehabis semalaman duel seru melawan komplotan kata: duel satu lawan satu maupun satu lawan dua, lima, sepuluh, pokoknya banyak. Di layar komputernya tertera tulisan: Kutunggu lagi kalian besok malam. Boleh satu lawan satu, boleh keroyokan.

Besoknya ia datang lagi ke gelanggang. Ia pikir malam itu ia akan berhadapan dengan komplotan kata yang lebih preman. Tak tahunya cuma ditantang sebuah tanda koma yang berani-beraninya muncul sendirian. Ah, itu sih kecil. Sekali pukul saja pasti terpental.

Wow, ia salah duga. Koma ternyata sangat perkasa. Sudah bertarung semalam suntuk, belum juga ia takluk. Malah makin mbeling saja. Bukan main cerdiknya. “Belajar silat di mana, dik? Di sekolah ya?” tanya pengarang. “Ah, tidak. Saya otodidak saja,” jawab koma.

Antara mabuk dan mengantuk, pengarang berusaha keras mengeluarkan jurus-jurus jitu untuk melumpuhkan koma. Sebab hanya yang mampu menguasai koma yang layak menyebut diri jagoan. Dan tahukah, pengarang, koma pula yang setia menungguimu saat kau mati menjelang dinihari?

Ketika pengarang terbangun dari mati, koma memberi kabar bahwa judul sedang sakit sehingga tidak bisa datang. “Dia memang tidak tahan banting. Manja!” ujarnya. “Lantas siapa yang menggantikannya?” timpal pengarang. “Sudah jelas saya, masih nanya!” kata koma.


Joko Pinurbo
(2003)

Dalam Diriku

dalam diriku mengalir
sungai panjang
darah namanya…
dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya…
dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya…
dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya…


Sapardi Djoko Damono
Pohon-pohon pun gembira
serentak mereka menari bersama
saat awan hitam itu datang
membawa mimpi mereka

Setelah separuh hari
percikan sang surya itu
dengan kejam membakar harap
makhluk malang tanpa daya

Mereka serahkan seluruh hidup
seluruh harapan dan impian
kepada Sang Pencipta
tanpa sesal pun ragu

Walau kemarau nan kejam
datang tanpa ampun
tewaskan banyak diantara mereka
tetap tak ada kecewa

Saat hujan datang
nikmat tiada terkira
mengulur waktu mereka
menjalani fitrah sebagai makhlukNya
Mendung menggelayut
Langit dijalanan begitu kelabu

Aku tak bisa membedakan
apakah langit yang lebih mendung
ataukah hatiku

Banjir barangkali akan datang
bersama hujan
saat air mataku sudah tak terbendung lagi

Kendati salju
sepertinya sudah lama turun
dan mendinginkan hatiku
yang sudah beku

Aku tiba-tiba paham
bagaimana rasanya kehilangan
harapan hingga ke titiknya
yang paling dasar.


Dewi Kharisma Michellia
Surat Panjang hal 173

Cinta

Cinta adalah tempat dimana
suka dan duka memiliki bentuk
dan rasa yang sama
Cawan dimana darah
dan airmata menjadi penawar luka

Rindu menjadi buah dari pohon cinta
yang rasanya sering tak karuan
kadang ia manis dan lembut
tak jarang getir dan membara

Tak soal ia berbuah suka atau pun duka
Sebab segala yang tumbuh dari pohon cinta adalah indah
Seindah embun di dahan cemara

Cinta tak butuh logika
Ia bagai air hujan yang merindukan tanah
Yang tak butuh alasan untuk bersatu
Tapi menjadi sumber bagi kehidupan

Tak ada yang mampu mengiringi cinta
Karena ia memang tumbuh dalam pelukan sepi
Kesunyian cinta adalah keindahan itu sendiri
Kesendiriannya adalah kekuatannya

Dengan hati bermahkotakan cinta
Cinta kepada Yang Maha Indah
Begitu lapang hati menampung segala indah
Kasih dalam segala bentuknya

September 2013