Jumat, 10 April 2015

Walaupun setiap orang berbicara padamu tentang manfaat dan guna, Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan.

G

Selasa, 11 November 2014

.

Kau boleh pilih
Ikut bersamaku
Dalam rakit ini mengacuhkan senja
Memancing bagi perut2 lapar

Atau kau bersamanya
Dalam speedboat itu
Habiskan waktu
Menikmati senja dan gemintang di malam hari

Jumat, 20 Juni 2014

oleh Wahyu Sulaiman Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

Senin, 02 Juni 2014

9 Rubaiyat Langit dan Hujan

kau sedikit sekali kusimpan dalam kenangan.
apakah cinta harus memiliki banyak ingatan?
bukankah sebongkah awan
sudah cukup mencucurkan hujan?

kita bersisian tak memberi sela untuk udara.
“aku rindu jadi sengaja mimpi kuciptakan.
kita di sana. tapi bila kau sendirian saja
lihatlah, rintik hujan masih bertahan.”

rindu hujan tak terlihat di mana dasarnya,
langit: “bila terlalu dalam nanti kau menangis,”
diam-diam hujan menghimpun desis gerimis
yang bergelayutan di ujung harum hio sua.

“tidakkah kau mencintaiku?” hujan
tak berharap langit mengiyakan.
hujan hanya ingin mencium pelupuknya
ketika dipandang begitu mesra.

aku ingin memujamu seperti hujan.
menurutmu, “jangan”
hujan adalah tangis langit.
tetap basah ketika kemarau yang sulit.

apakah yang paling penting bila hujan reda?
sorak kanak-kanak bermain bola dan sepeda.
tidak. pergilah ke pekarangan dan tengok saja
hatiku dibasahi cinta. warnanya seperti apa?

aku tak menyukai langit karena bulan begitu jauh.
aku mencintai bintang-bintang di mata yang teduh.
“bagaimana kita menyeimbangkannya? aku bukan langit,”
begitulah, bisikmu, “aku kabut di kaki bukit.”

tiba-tiba gelombang hujan mendesing.
kata dan suara memburu ledakan cahaya.
burung kecil berlomba dengan pesawat udara.
aneh…, mereka sama sekali tidak bising.

“aku tulis 9 rubaiyat untukmu.” hampir usai,
tetapi langit belum terang sehabis hujan.
jika begitu langitkah? hujankah? oh, bukan.
jangan sembilan! ini rubaiyat yang tak selesai.

Lan Fang

Minggu, 01 Desember 2013

Budak Dan Orang-Orang Merdeka

Akan kusampaikan padamu kisah indah bagai permata
Agar dapat kau bedakan antara budak dan orang merdeka
Budak punya kebiasaan mengulang-ngulang
Pengalamannya tidak menunjukkan keaslian
Orang merdeka selalu sibuk mencipta
Tali biolanya bergetar selalu menyanyikan lagu baru
Kebiasaannya menghindari pengulangan-pengulangan
Jalannya tak berputar sepertu jarum jam
Bagi budak waktu adalah belenggu
Bibirnya tak henti-hentinya menyesali nasibnya
Keberanian orang merdeka jadi bahan pertimbangan takdir
Ia adalah tangan yang menciptakan peristiwa-peristiwa

Moh Iqbal, Budak Dan Orang-Orang Merdeka, Pustaka Bandung, 1998

Selasa, 12 November 2013

Tamu Spesial

Tar…ter..tar…ter, suara petasan meledak beruntun seiring datangnya kedua mempelai di tempat resepsi. Tetapi kedua mempelai ini rupanya bukan manusia, karena mereka mengadakan resepsi pernikahannya di tengah gunungan sampah di TPA Bantar Gebang. Mereka pun harus membayar mahal untuk menyewa tempat itu. Karena tempat itu merupakan ladang tempat ribuan kepala keluarga mencari makan, jadi kedua mempelai itu harus menanggung makan ribuan kepala keluarga beserta anggotanya selama sehari.

Kerabat yang diundang pun hanya satu dua orang yang benar-benar dekat dengan mereka, karena mereka lebih mementingkan undangan spesial mereka, yaitu gelandangan dan anak-anak jalanan. Mereka bahagia sekali dapat makan bersama dengan anak-anak jalanan di tengah aroma gunungan sampah bersama seluruh undangan. Jangan kira makanan yang disediakan adalah makanan murahan, sebaliknya mereka menyediakan cathering hotel dalam jumlah sangat banyak. Mereka akan sedih sekali kalau sampai ada undangan spesial yang datang tapi tidak dapat makan.

Selesai makan bersama, acara dilanjutkan dengan hiburan berupa life music dari pengamen-pengamen yang datang, juga pembacaan puisi dari anak-anak jalanan hasil karya mereka sendiri. Juga ada cerita tentang sejarah perjuangan dari seorang veteran perang yang sekarang menjadi tukang becak.


Sampai sore hari, acara resepsi itu akhirnya selesai. Betapa bahagia kedua pengantin itu. Tak sepeserpun mereka terima dari tamu undangannya kecuali senyum bahagia nan tulus, karena hanya itu yang dibutuhkan kedua mempelai dari saudara-saudaranya itu. Dan hari itu adalah awal dari sesuatu yang besar, sesuatu yang baik, kehidupan bersama sebagai sepasang suami istri, yang perjalanan bahteranya di lepas oleh senyum bahagia dari ribuan tamu spesial mereka.

Jumat, 04 Oktober 2013

Koma

Menjelang dinihari pengarang itu mati. Kepalanya terkulai di atas meja, batuknya serasa masih menggema, sementara rokok yang belum habis dihisapnya masih menyala di atas asbak. Tubuhnya babak belur sehabis semalaman duel seru melawan komplotan kata: duel satu lawan satu maupun satu lawan dua, lima, sepuluh, pokoknya banyak. Di layar komputernya tertera tulisan: Kutunggu lagi kalian besok malam. Boleh satu lawan satu, boleh keroyokan.

Besoknya ia datang lagi ke gelanggang. Ia pikir malam itu ia akan berhadapan dengan komplotan kata yang lebih preman. Tak tahunya cuma ditantang sebuah tanda koma yang berani-beraninya muncul sendirian. Ah, itu sih kecil. Sekali pukul saja pasti terpental.

Wow, ia salah duga. Koma ternyata sangat perkasa. Sudah bertarung semalam suntuk, belum juga ia takluk. Malah makin mbeling saja. Bukan main cerdiknya. “Belajar silat di mana, dik? Di sekolah ya?” tanya pengarang. “Ah, tidak. Saya otodidak saja,” jawab koma.

Antara mabuk dan mengantuk, pengarang berusaha keras mengeluarkan jurus-jurus jitu untuk melumpuhkan koma. Sebab hanya yang mampu menguasai koma yang layak menyebut diri jagoan. Dan tahukah, pengarang, koma pula yang setia menungguimu saat kau mati menjelang dinihari?

Ketika pengarang terbangun dari mati, koma memberi kabar bahwa judul sedang sakit sehingga tidak bisa datang. “Dia memang tidak tahan banting. Manja!” ujarnya. “Lantas siapa yang menggantikannya?” timpal pengarang. “Sudah jelas saya, masih nanya!” kata koma.


Joko Pinurbo
(2003)